Kolaborasi dalam Dakwah & Tarbiyah

Coba kita hitung pelan-pelan.

Sehari penuh, 24 jam.
Ada kerja, ada urusan, ada lelah, ada rapat, ada chat yang tak habis-habis, ada target yang dikejar, ada hiburan yang terasa “sebentar saja” tapi tahu-tahu sudah larut.

Lalu Allah… memanggil.

Hanya lima kali.

Bukan lima puluh. Bukan setiap menit. Bukan sepanjang hari tanpa jeda.
Hanya lima kali—di waktu yang telah ditentukan.

Dan anehnya, justru yang “hanya lima kali” ini sering kita perlakukan seperti hal yang bisa ditawar.

Padahal panggilan itu bukan panggilan biasa.

Itu panggilan dari Dzat yang memberi napas saat kita tidur,
yang menahan jantung tetap berdetak tanpa kita minta,
yang menutup aib kita berkali-kali,
yang memberi rezeki bahkan ketika kita lalai bersyukur.

Bukan selapangnya hati, bukan sesenggangnya waktu

Kita sering berkata:
“Nanti kalau sudah tenang.”
“Nanti kalau sudah selesai.”
“Nanti kalau sudah senggang.”

Tapi bukankah itu persis cara dunia mendidik kita?
Bahwa ibadah adalah “sisa waktu”—bukan “pusat hidup”.

Padahal Allah menetapkan shalat bukan mengikuti jadwal kita, tapi mendidik jadwal kita.

Karena hidup ini, kalau dibiarkan, memang akan selalu terasa penuh.
Dan kalau kita menunggu “waktu luang” untuk taat, kita akan menunggu terlalu lama.

Maka saat waktu itu tiba—
tunaikanlah. penuhi panggilan itu.

Sempit atau lapang hidupmu,
susah atau gembira hatimu,
miskin atau kaya hidupmu…

Shalatlah.

Bukan karena kita selalu siap,
tapi karena itulah bukti siapa yang kita anggap paling penting.

Shalat itu bukan sekadar kewajiban, ia penentu arah

Ada orang yang terlihat baik, sopan, ramah, aktif, produktif…
tapi jiwanya mudah runtuh ketika dihantam masalah.
Ada pula orang yang hidupnya sederhana, ujiannya berat…
tapi hatinya kokoh. Tenang. Tidak gampang putus.

Kadang bedanya bukan pada seberapa mudah hidup mereka,
tapi pada seberapa dekat mereka dengan Allah.

Shalat itu seperti jangkar.
Ketika ombak hidup mengguncang, ia menahan kita agar tidak hanyut.

Shalat itu seperti rem.
Ketika nafsu mengajak melaju liar, ia mengingatkan: “Berhenti. Kamu bukan milikmu sendiri.”

Shalat itu seperti kompas.
Ketika dunia membuat kita bingung arah, ia mengembalikan: “Tujuanmu bukan di sini. Kamu sedang perjalanan.”

Dan yang paling menohok:
shalat mengajarkan bahwa hidup ini bukan tentang mau atau tidak,
tapi tentang taat atau lalai.

Karena banyak hal penting di dunia pun bukan soal “mau”, tapi soal “harus”:
harus makan, harus kerja, harus jaga kesehatan, harus bayar kewajiban…
lalu kenapa justru urusan dengan Allah sering kita posisikan sebagai “opsional”?

Jika shalat saja sering ditunda…

Kalimat ini seperti cermin yang jujur.

Jika shalat saja sering ditunda,
bagaimana dengan amanah waktu lainnya?

Bagaimana kita bisa berharap disiplin dalam hal besar,
kalau yang lima kali saja—yang jelas waktunya, yang jelas panggilannya—kita sering menawar?

Shalat bukan hanya ibadah, ia juga latihan:
latihan menaklukkan ego,
latihan memotong kesibukan,
latihan mendahulukan Allah,
latihan mengatakan: “Aku taat, meski aku lelah.”

Dan latihan itu akan terlihat dampaknya di luar sajadah:
lebih jujur, lebih sabar, lebih amanah, lebih bersih hati, lebih kuat menahan diri.

Tapi sebaliknya, bila shalat dianggap ringan untuk ditunda,
perlahan yang lain juga akan terasa ringan untuk dilalaikan:
janji, tanggung jawab, adab, bahkan dosa—jadi makin mudah.

Karena kerusakan besar sering dimulai dari kelalaian kecil yang dibiarkan.

Mungkin kita tidak butuh hidup yang lebih lama

Ini bagian yang paling sunyi—dan paling nyata.

Kita sering berdoa ingin umur panjang.
Ingin kesempatan lebih. Ingin hidup lebih luas.

Tapi mungkin, yang lebih kita butuhkan bukan hidup yang lebih lama,
melainkan hidup yang lebih tunduk.

Karena panjang umur tanpa taat hanya memperpanjang penundaan.
Dan “nanti” yang kita simpan-simpan itu, bisa saja tak pernah datang.

Kita tidak tahu kapan panggilan terakhir itu tiba:
bukan panggilan adzan… tapi panggilan pulang.

Dan saat waktu pergi itu datang, yang menenangkan kita bukan banyaknya rencana,
tapi banyaknya sujud yang pernah kita lakukan dengan jujur.

Bangkit: mulai dari yang lima kali

Kalau hari ini masih berantakan, jangan mulai dari hal yang rumit.
Jangan menunggu jadi “sempurna” baru taat.

Mulailah dari yang Allah minta dengan jelas: lima kali.

  • Jaga waktunya.
  • Jangan menawar-nawar.
  • Datangi Allah, meski hati sedang kusut.
  • Shalat, meski air mata belum turun.
  • Shalat, meski iman sedang naik-turun.

Karena kadang bukan kita yang menunggu khusyuk untuk shalat,
tapi shalatlah yang menuntun kita menuju khusyuk.

Dan perlahan—hidup akan berubah.
Bukan karena masalah hilang,
tapi karena hati punya tempat kembali.

HANYA LIMA KALI…

Lima kali sehari, Allah memanggil.

Bukan selapangnya hati.
Bukan sesenggangnya waktu.
Tapi saat waktu itu tiba:

Tunaikanlah. Penuhi panggilan itu.
Sempit atau lapang hidupmu,
susah atau gembira hatimu,
miskin atau kaya hidupmu…

Shalatlah.

Mungkin kita tidak butuh hidup yang lebih lama,
tapi pastikan hati kita tunduk menghamba
sebelum waktunya benar-benar pergi dari dunia.

Dan semoga, ketika panggilan terakhir datang,
kita bukan sedang sibuk menunda—
tapi sedang dikenal oleh langit sebagai hamba yang sering sujud.

Aamiin.

Media Partners Dakwah

Artikulli paraprakKetua DPW Wahdah Islamiyah Sultra Pimpin Ikrar, Teguhkan Komitmen Sukseskan GSD 2026 di Bumi Anoa
Artikulli tjetërSejarah Perpecahan Umat Islam: Sebuah Pelajaran Berharga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini