Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kemuliaan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga hari kiamat.
Menjadi ulama rabbani adalah cita-cita yang mulia. Ulama rabbani bukan sekadar orang yang banyak ilmunya, tetapi mereka yang senantiasa belajar, mengamalkan, mengajarkan, dan membimbing manusia menuju Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
“Akan tetapi hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani karena kalian selalu mengajarkan kitab dan terus mempelajarinya.” (QS. Ali ‘Imran: 79)
Ibnu Abbas berkata:
الرَّبَّانِيُّ: الَّذِي يُرَبِّي النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ
“Ulama rabbani adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu-ilmu dasar sebelum ilmu-ilmu yang besar.”
Maka, perjalanan menjadi ulama rabbani dibangun di atas tiga bekal utama.
Bekal Pertama: Senantiasa Dekat dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah sumber keberkahan seorang penuntut ilmu. Siapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabatnya, Allah akan memberkahi ilmunya, amalnya, waktunya, hartanya, dakwahnya, bahkan seluruh urusannya.
Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ
“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan keberkahan agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.” (QS. Shad: 29)
Keberkahan bukan selalu berarti banyak, tetapi kebaikan yang terus bertambah dan manfaat yang terus meluas. Banyak orang memiliki waktu yang sama, tetapi tidak semua memiliki waktu yang diberkahi. Banyak yang memiliki ilmu, tetapi tidak semua ilmunya bermanfaat. Al-Qur’an adalah salah satu sebab terbesar datangnya keberkahan itu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Muhasabah
- Berapa juz yang saya baca setiap hari?
- Apakah saya hanya membaca, atau juga mentadabburi dan mengamalkannya?
- Sudahkah Al-Qur’an menjadi penuntun dalam aktivitas belajar dan berdakwah?
Bekal Kedua: Semangat Menuntut Ilmu

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu hanya beberapa tahun bersama Rasulullah ﷺ, tetapi beliau menjadi sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis. Rahasianya adalah kesungguhan.
Beliau berkata:
“Kaum Muhajirin sibuk berdagang dan kaum Anshar sibuk mengurus kebun, sedangkan aku selalu bersama Rasulullah ﷺ.” (HR. Bukhari)
Beliau rela menahan lapar, meninggalkan kenyamanan, dan menghabiskan waktunya untuk duduk di majelis Nabi ﷺ. Kesungguhan itu kemudian dibalas oleh Allah dengan hafalan yang kuat, ilmu yang luas, dan keberkahan yang terus mengalir hingga hari ini.
Yahya bin Abi Katsir berkata:
لَا يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجَسَدِ
“Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang selalu ingin nyaman.”
Muhasabah
- Sudahkah saya memanfaatkan masa belajar di Madinah sebaik-baiknya?
- Apakah saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk ilmu atau untuk hal-hal yang melalaikan?
- Pengorbanan apa yang sudah saya lakukan demi ilmu?
Bekal Ketiga: Memiliki Obsesi Dakwah

Tujuan menuntut ilmu bukan hanya untuk menjadi orang yang berilmu, tetapi agar ilmu itu sampai kepada manusia.
Allah berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh…” (QS. Fussilat: 33)
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seorang mahasiswa syariah hendaknya tidak hanya memiliki target akademik, tetapi juga target dakwah. Setiap ilmu yang dipelajari hendaknya diiringi dengan pertanyaan, “Bagaimana ilmu ini akan bermanfaat bagi umat?”
Para ulama berkata:
العالم من عمل بعلمه وعلَّمه الناس
“Orang berilmu yang sejati adalah yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya kepada manusia.”
Muhasabah
- Siapa yang sedang saya bina dengan ilmu yang Allah berikan?
- Apakah saya memiliki program dakwah yang istiqamah, walaupun sederhana?
- Jika hari ini saya kembali ke kampung halaman, apakah saya siap menjadi pembimbing masyarakat?
Jalan menuju ulama rabbani dimulai dari langkah-langkah kecil yang terus dijaga. Dekatlah dengan Al-Qur’an agar hidup dipenuhi keberkahan.
Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu sebagaimana Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dan tumbuhkanlah obsesi dakwah, karena ilmu terbaik adalah ilmu yang menghidupkan hati dan memberi manfaat bagi umat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rabbani; yang belajar dengan ikhlas, beramal dengan istiqamah, dan berdakwah dengan hikmah.
Allah mengajarkan sebuah doa di dalam al-Qur’an
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha: 114)
Artikel Oleh: Ustaz Syahrul Bardin, S.H, Lc (Kandidat Magister Universitas Islam Madinah)








