Kolaborasi dalam Dakwah & Tarbiyah

Allah ﷻ memilih Madinah sebagai tempat hijrah Rasulullah ﷺ, pusat tegaknya masyarakat Islam pertama, dan tempat berkembangnya generasi terbaik umat ini.

Kota ini menjadi saksi lahirnya persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar, berkembangnya majelis-majelis ilmu, serta tumbuhnya masyarakat yang dibangun di atas iman, ibadah, dan akhlak.

Allah ﷻ berfirman:

﴿وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ﴾

“Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka, mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka, tidak ada rasa iri dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan saudaranya meskipun mereka sendiri membutuhkan.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Ayat ini menggambarkan karakter masyarakat Madinah yang dibangun di atas keimanan dan pengorbanan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا

“Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah sebagaimana ular kembali ke lubangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Malik bin Anas berkata:

لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا

“Generasi akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah menjadikan generasi awal umat ini menjadi baik.”

Karena itu, ketika kita berbicara tentang kebiasaan baik yang banyak dijumpai di Madinah, tujuan kita bukan mengagungkan suatu bangsa, melainkan mengambil pelajaran dari praktik nilai-nilai Islam yang masih tampak dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menjadikan Shalat sebagai Prioritas Kehidupan

Allah berfirman:

﴿إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا﴾

“Sesungguhnya shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)

Allah juga berfirman:

﴿رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ﴾

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah dan mendirikan shalat.” (QS. An-Nur: 37)

Abdullah bin Mas’ud berkata:

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلَاةِ إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ

“Aku melihat pada masa kami, tidaklah seseorang meninggalkan shalat berjamaah kecuali orang munafik yang telah jelas kemunafikannya.”

Ketika azan berkumandang, suasana di Madinah berubah. Banyak toko di sekitar Masjid Nabawi dan di berbagai kawasan kota ditutup sementara.

Para pedagang, pegawai, mahasiswa, dan masyarakat bergegas menuju masjid. Di masjid-masjid lingkungan, saf-saf segera terisi. Setelah shalat, banyak jamaah melanjutkan membaca Al-Qur’an atau menghadiri halaqah ilmu sebelum kembali bekerja.

2. Memuliakan Tamu

Allah berfirman tentang tamu Nabi Ibrahim عليه السلام:

﴿فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ﴾

“Lalu ia pergi diam-diam menemui keluarganya, kemudian datang membawa anak sapi yang gemuk.” (QS. Adz-Dzariyat: 26)

Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penduduk Madinah telah lama terbiasa hidup berdampingan dengan tamu dari seluruh dunia. Banyak warga yang dengan ramah menunjukkan arah kepada jamaah yang tersesat, membantu lansia membawa barang, bahkan mengundang tamu untuk menikmati hidangan.

Pada bulan Ramadan, tidak sedikit keluarga yang menyediakan makanan berbuka untuk para jamaah di masjid-masjid.

3. Gemar Bersedekah dan Membantu Sesama

Allah berfirman:

﴿لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna hingga kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Rasulullah bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidak mengurangi harta.” (HR. Muslim)

Budaya berbagi sangat terasa. Di sekitar Masjid Nabawi sering dijumpai orang yang membagikan air minum, kurma, kopi Arab, atau makanan ringan kepada jamaah.

Banyak dermawan yang membiayai beasiswa mahasiswa internasional, pembangunan masjid, percetakan Al-Qur’an, hingga penyediaan iftar selama Ramadan. Tidak sedikit pula keluarga yang rutin mengirim makanan kepada tetangga atau penuntut ilmu.

4. Membiasakan Zikir dalam Kehidupan Sehari-hari

Allah berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak.” (QS. Al-Ahzab: 41)

Rasulullah bersabda:

لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan zikir kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi)

Kalimat-kalimat seperti الحمد لله, إن شاء الله, جزاك الله خيرًا, بارك الله فيك, dan ما شاء الله  sangat sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Penjual mengucapkan doa kepada pembeli, pembeli membalas dengan doa.

Orang yang menerima bantuan mengucapkan jazākallāhu khairan, dan ketika berjanji hampir selalu diawali dengan insyā Allah. Zikir menjadi bagian alami dari komunikasi sehari-hari.

5. Memuliakan Wanita

Allah ﷻ berfirman:

﴿وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ﴾

“Pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (QS. An-Nisa’: 19)

Allah juga berfirman:

﴿وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ﴾

“Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah: 228)

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya (istrinya), dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. at-Tirmidzi)

Hadits lain:

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Berbuat baiklah kepada para wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim) Di banyak tempat umum di Madinah, tampak budaya menjaga adab terhadap wanita.

Laki-laki umumnya menghindari berdesakan apabila memungkinkan, memberikan ruang bagi wanita untuk berjalan, membantu lansia atau ibu yang membawa anak, serta menjaga pandangan dan sopan santun dalam berinteraksi.

Dalam Masjid Nabawi tersedia area khusus yang tertata untuk jamaah wanita sehingga mereka dapat beribadah dengan nyaman.

Dalam kehidupan keluarga, perhatian terhadap ibu, istri, dan anak perempuan juga merupakan nilai yang diajarkan dan dijaga oleh banyak keluarga.

Ditulis Oleh: Ustaz Syahrul Bardin, S.H, Lc (Kandidat Magister Universitas Islam Madinah)

Media Partners Dakwah

Artikulli paraprakMenyiapkan Diri Menjadi Ulama Rabbani
Rizky Kurnia Rahman
Ketua Departemen Medikomhum DPD WI Bombana

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini