Kolaborasi dalam Dakwah & Tarbiyah

Bombana, wahdahsultra.or.id – Momen langka baru saja terjadi di Masjid An-Nur, kompleks Pondok Pesantren Al-Wahdah Bombana Putri. Tepatnya tadi malam, Selasa (7/7/2026), dari bada Maghrib hingga melewati waktu Isya.

Melalui kegiatan Tarbiyah Gabungan (Targab) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah (WI) Bombana. Ustaz yang menjadi pembicara adalah termasuk kader terbaik dari Kabupaten Bombana, karena sedang menempuh kuliah S2 di Universitas Islam Madinah.

Beliau Ustaz Syahrul Bardin, S.H, Lc, kandidat magister dan masuk sebagai alumnus terbaik dari Sekolah Tinggi Islam dan Bahasa Arab (STIBA) IAI Makassar. Datang ke Bombana pada awal bulan ini dan dipersilakan untuk mengisi Targab dengan tema “Bukan Sekadar Berdakwah, Tapi Mencetak Generasi”.

Kumpul Sesama Ikhwah

Sebelum memasuki materi inti, Ustaz Syahrul menceritakan kejadian di masa lampau. Beliau ke Madinah pada tahun 2019. Waktu itu majelis ilmu sangat dicari oleh para ikhwah.

“Meskipun jauh lokasi majelis ilmu 3-5 kilometer, tetapi mereka semangat datang di kantor DPP. Tidak hanya sekali sepekan. Khususnya kajian malam Jum’at, paling ramai di Makassar. Karena ada menu berbukanya dengan jalangkote telur,” ulasnya sambil tertawa kecil.

Namun, fenomena berbeda diungkapkan beliau setelah corona atau covid-19. Semangat hadir di majelis ilmu menjadi berbeda. Meskipun demikian, beliau mengatakan,

“Ini sesuatu yang tidak boleh dinormalisasi. Hadirnya di majelis ilmu, bukan sekadar hadir dan tidak ada yang dibawa pulang. Apalagi suasana bertemu dengan ikhwah lainnya. Beda suasana masjid lain dengan di markas kita. Termasuk suasana sholat dan dzikir kita.”

Lebih lanjut, beliau mengungkapkan lagi, “Saya sering singgah di kampung istri di Sidrap. Ikhwah di sana kumpul di Masjid Al-Ikhlas. Setelah Subuh, ngumpul di teras masjid. Tidak hanya sekadar ngumpul, tetapi juga transfer semangat. Suasana berkumpul membuat jadi merasa tidak asing.”

Berkumpul juga bisa menjadi sarana untuk mencurahkan masalah ikhwah. Kata Ustaz Syahrul berikutnya,

“Malas hadir di majelis ilmu karena merasa tidak ada yang didapat atau materinya tidak disukai. Ini adalah talbis iblis menurut Ibnul Jauzi adalah dijauhkan dari majelis ilmu.”

Sumber Kebaikan

Ustaz Syahrul mengutip perkataan seorang ulama bahwa ilmu adalah sumber kebaikan. Contohnya masalah keluarga tidak dapat diatasi jika tidak tahu ilmunya.

Beliau menyampaikan tentang keutamaan berdakwah,

“Berdakwah adalah ibadah yang sangat mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi amanah kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, seandainya ada seorang yang dapat hidayah karen sebabmu, itu lebih baik daripada mendapatkan unta merah.”

Motivasi terus digaungkan oleh Ustaz Syahrul kepada yang hadir,

“Ajakan kepada orang lain, baik orang itu hadir maupun tidak, itu sudah jadi amal saleh untuk kita. Apalagi kalau dia datang, meskipun dia tidak mendapatkan apa-apa, tetapi kita sudah dapat amal saleh karena dihitung dari langkah kakinya.”

Kenyataan yang ada, ujar Ustaz Syahrul,

“Dari antara banyaknya orang, tidak semua bisa bertahan sampai akhir. Tidak semua santri jadi ustaz. Itulah sunnatullah. Makanya, kita jangan berhenti untuk mengajak orang.”

Beliau mencontohkan kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat. Mereka tidak berhenti berdakwah, tetapi terus mendapatkan tarbiyah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Para sahabat bergerak. Seperti Muadz bin Jabal ke Yaman, Ibnu Umar menjadi ulama Madinah. Ibnu Abbas menjadi ulama Mekkah.”

Salah satu sahabat nabi yang disebutkan khusus dan memang luar biasa adalah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu. Menurut Ustaz Syahrul,

“Lima dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga diajak oleh Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu, yaitu: Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf.”

Beliau masih memuji sahabat nabi bahwa kedudukan mereka luar biasa di dalam agama ini. Sebab, kata Ustaz Syahrul, karena perjuangan mereka, Islam bisa tersebar. Kita masih bisa mendengar Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Mengajak Orang Terdekat

Siapa orang yang diajak pertama kali menurut Ustaz Syahrul? Beliau menekankan orang terdekat kita. Contohnya, Abu Bakar mengajak keluarganya untuk melindungi dan membantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, terutama ketika akan berhijrah.

“Asma bin Abu Bakar bertugas membawakan bekal. Saudaranya, Abdullah bin Abu Bakar membawa informasi dari Mekkah atau menjadi mata-mata. Amir bin Fuhairah, bekas budak Abu Bakar, membawa kambing untuk diminum susunya dan menghapus jejak di Jabal Tsur.”

Ketika sudah masuk waktu Isya, Ustaz Syahrul memberikan nasihat kepada para ikhwah,

“Kita saling memotivasi. Hadir di majelis ilmu karena itu penting. Tidak hanya berdakwah, tetapi juga meneruskan dakwah ini.”

Kisah orang saleh kembali dicontohkannya,

“Seperti Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah. Beliau melahirkan penerus-penerus dakwah, seperti Ibnu Katsir dengan tafsir Al-Qur’annya dan Ibnul Qayyim dengan tazkiyatun nafs, semuanya penerus Ibnu Taimiyah.”

Setelah salat Isya berjamaah, diteruskan dengan diskusi atau tanya jawab. Ada juga kuis-kuis kecil oleh Ustaz Syahrul dan Ustaz Akbar, Ketua DPD WI Bombana, terakhir dengan makan malam bersama.

Media Partners Dakwah

Artikulli paraprakKetum MUI Ajak Pemerintah dan Ormas Bersatu Tolak Kampanye LGBT di Indonesia
Rizky Kurnia Rahman
Ketua Departemen Medikomhum DPD WI Bombana

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini