MASJIDIL AQSA – Suasana di kompleks Masjid Al-Aqsa, Kamis pagi, 14 Mei 2026, tak ubahnya sebuah instalasi militer. Sejak fajar menyingsing, otoritas keamanan Israel telah menyumbat akses bagi warga Palestina.
Di saat yang sama, pintu-pintu gerbang dibuka lebar bagi ratusan pemukim Yahudi yang datang dengan pengawalan bersenjata lengkap.
Laporan dari Kantor Kegubernuran Al-Quds menyebutkan aksi ini dipimpin langsung oleh tokoh-tokoh garis keras, termasuk anggota Knesset (Parlemen Israel) Ariel Kellner dan rabi ekstremis Yehuda Glick dan termasuk Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir.
“Mereka melakukan ritual Talmud di tengah pelataran, sementara kami dilarang masuk,” ujar seorang saksi mata di lokasi.
Sambil bertepuk tangan dan bernyanyi, pemukim terus menerobos masuk ke Masjid Al-Aqsa yang mulia dari arah Gerbang Al-Maghariba, dengan jumlah ratusan hingga ribuan orang.
Menanggapi peristiwa tersebut, Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., MA mengecam keras atas penyerbuan Masjidil Aqsa oleh pemukim Yahudi.
“Kesombongan dan keangkuhan tingkat dewa Ben-Gvir yang mendapat legitimasi dari Netanyahu yang tentu saja di backup penuh oleh tentara Israel. Kita mengecam dengan keras tindakan Ben-Gvir ini dan semua Zionis yang terus mengangkangi setiap jengkal wilayah Palestina,” ungkapnya, Jumat (15/5/2026).
IUstadz Zaitun menegaskan bahwa pelecehan entitas zionis tersebut terhadap tanah suci ummat Islam akan mempercepat kehancuran mereka.
“Ini akan mempercepat kehancuran negara mereka, yang penting ummat Islam dan masyarakat dunia yang masih punya hati nurani tidak berhenti bersuara dan membela Masjidil Aqsa,” pungkasnya.
Sebelumnya, Ketua MUI Bidang Ukhuwah tersebut mengajak kepada seluruh elemen bangsa untuk bersatu melakukan aksi besar-besaran demi menghentikan kekejaman Israel yang merupakan musuh utama kemanusiaan.
“Zionis terus mempertontonkan kebiadaban mereka, zionis adalah musuh umumnya manusia dan kemanusiaan. Maka mari seluruh dunia mengutuk mereka, sambil berdoa agar dipercepat kehancuran mereka,” serunya.
Pawai bendera tahunan Israel di Yerusalem selama ini kerap memicu ketegangan karena melewati wilayah-wilayah Palestina di Yerusalem Timur yang diduduki. Pemerintah Palestina dan berbagai organisasi hak asasi manusia internasional menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk provokasi yang memperburuk situasi keamanan dan memperdalam ketegangan di kota suci tersebut.
Laporan: Media UZR








