KENDARI – Sebanyak 73 dai Wahdah Islamiyah yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara (Sultra) ditugaskan menjadi khatib pada pelaksanaan Sholat Idulfitri 1447 Hijriah, Jumat (21/3/2026).
Para dai tersebut mengusung tema khutbah seragam bertajuk “Perisai Umat di Tengah Krisis Global”, sebuah tema yang menyoroti pentingnya kekuatan iman, ilmu, adab, dan dakwah dalam menghadapi berbagai tantangan dunia modern. Tema ini merujuk pada naskah khutbah resmi yang disusun Dewan Syariah Wahdah Islamiyah .
Ketua Departemen Dakwah DPW Wahdah Islamiyah Sultra, Ust. Siddiq Aminullah, S.H., M.Ag., mengungkapkan bahwa jumlah 73 dai yang diterjunkan merupakan bagian dari upaya strategis untuk menyampaikan pesan dakwah yang seragam dan terarah kepada umat.
“Sebanyak 73 dai kami tugaskan di berbagai titik pelaksanaan Sholat Id. Ini bukan sekadar pengisian khutbah, tetapi bagian dari gerakan edukasi umat agar memiliki perisai iman dalam menghadapi krisis global yang semakin kompleks—baik krisis moral, ekonomi, informasi, maupun krisis nilai,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa khutbah Idulfitri tahun ini dirancang tidak hanya menyentuh sisi spiritual, tetapi juga memberikan kesadaran kontekstual kepada umat tentang realitas dunia yang sedang dihadapi.
“Khutbah ini mengajak umat untuk tidak larut dalam euforia semata, tetapi menjadikan Idulfitri sebagai titik awal kebangkitan—dengan takwa yang konsisten, ilmu yang benar, serta peran aktif dalam dakwah dan perbaikan sosial,” tambah alumni Program Kaderisasi Ulama STIBA Makassar itu.
.

Sementara itu, Ketua DPW Wahdah Islamiyah Sultra, Ust. Muh. Ikhwan Kapai, M.H., berharap penyampaian khutbah yang seragam oleh para dai dapat memberikan pencerahan yang luas kepada masyarakat.
“Kami berharap khutbah yang disampaikan secara seragam ini mampu menjadi cahaya bagi umat, terutama di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Umat butuh panduan, bukan hanya semangat sesaat, tetapi arah hidup yang jelas berdasarkan nilai-nilai Islam,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran dai dalam membangun kesadaran kolektif umat agar tidak mudah terombang-ambing oleh arus informasi dan perubahan zaman.
“Melalui khutbah ini, kami ingin menghadirkan narasi Islam yang solutif—yang menguatkan iman, menenangkan hati, sekaligus membimbing umat agar tetap kokoh di tengah berbagai krisis,” lanjutnya.
Salah satu dai yang bertugas, Prof. Dr. Ir. Edward Ngii, S.T., M.T., yang menjadi khatib di Lapangan Futsal Kampus Baru Universitas Halu Oleo (UHO), menjelaskan bahwa tema khutbah tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini.
“Perisai umat itu bukan sesuatu yang abstrak. Ia adalah kombinasi dari ilmu yang benar, ibadah yang hidup, akhlak yang terjaga, dan dakwah yang terus bergerak. Inilah yang akan membuat umat tidak mudah goyah, meskipun dunia sedang dilanda krisis,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa krisis global tidak hanya berdampak pada skala internasional, tetapi juga masuk hingga ke level keluarga dan individu.
“Ketika ekonomi tertekan, moral terguncang, dan informasi tidak terkendali, maka umat membutuhkan fondasi yang kuat. Khutbah ini ingin mengingatkan bahwa Islam telah menyediakan solusi—dan itu harus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Sebagaimana tertuang dalam naskah khutbah, umat Islam diajak untuk membangun empat perisai utama, yaitu menghidupkan tradisi ilmu, memperkuat ibadah, menjaga lisan dan etika informasi, serta menguatkan dakwah di tengah masyarakat .
Dengan penyebaran dai di berbagai wilayah dan penyampaian pesan yang seragam, Wahdah Islamiyah Sultra berharap momentum Idulfitri 1447 H tidak hanya menjadi perayaan kemenangan spiritual, tetapi juga menjadi awal kebangkitan umat dalam menghadapi tantangan zaman.
Laporan: Medikom Wahdah Sultra









