KENDARI – Keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya hafalan Al-Qur’an, tingginya prestasi akademik, atau kemampuan anak menguasai berbagai disiplin ilmu. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang memiliki rasa takut kepada Allah dan menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ketakwaan.
Pesan tersebut disampaikan oleh Ust. H. Syaiful Yusuf, Lc., M.A., di hadapan pada orang tua alumni dalam sesi Parenting pada acara Tasyakuran Hifzhul Qur’an dan Penamatan Yayasan Pendidikan Wahdah Islamiyah (YPWI) Kendari yang berlangsung di Auditorium Mokodompit UHO, Ahad (24/5/2026).
Dalam ceramahnya, Anggota Dewan Syariah Wahdah Islamiyah itu menegaskan bahwa ilmu merupakan warisan paling berharga yang ditinggalkan para nabi. Namun, ilmu bukanlah tujuan akhir dari pendidikan.
“Ilmu itu adalah alat, ilmu itu adalah jembatan. Tujuan kita bukan ilmu itu sendiri, tetapi surga yang Allah janjikan,” ujarnya.
Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ bahwa siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Karena itu, ilmu yang diperoleh harus menjadi sarana untuk semakin dekat kepada Allah, bukan sekadar kebanggaan atau status sosial.
Menurutnya, salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah ketika keberhasilan pendidikan hanya diukur dari capaian akademik dan hafalan, sementara aspek ketakwaan kurang mendapat perhatian.
“Kita tidak boleh merasa bangga hanya karena anak kita hafal Al-Qur’an, hafal hadits, atau prestasi akademiknya tinggi. Kita harus memastikan apakah ilmu itu melahirkan rasa takut kepada Allah atau tidak,” tegasnya.
Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Sultra itu juga menjelaskan bahwa ilmu yang tidak melahirkan ketakwaan merupakan ilmu yang tidak bermanfaat. Bahkan dalam sejumlah hadits, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ada orang berilmu yang justru menjadi golongan pertama yang dihisab dan diazab karena ilmunya tidak diamalkan dengan ikhlas.
“Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuat seseorang semakin takut kepada Allah, semakin taat kepada-Nya, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya,” jelasnya.
Meski menekankan pentingnya ketakwaan di atas capaian akademik dan hafalan, Ust. Syaiful tidak bermaksud mengecilkan nilai hafalan Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa menghafal Al-Qur’an merupakan salah satu warisan terbaik yang dapat dimiliki seorang muslim. Bahkan, sebagian besar putra-putrinya juga tumbuh dalam lingkungan pendidikan Al-Qur’an dan menjadi penghafal Al-Qur’an.
Namun, menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak boleh berhenti pada banyaknya hafalan. Yang lebih penting adalah sejauh mana hafalan tersebut membentuk akhlak, menumbuhkan rasa takut kepada Allah, dan mengarahkan seseorang menuju ketaatan.
Ust. Syaiful memperjelas maksudnya dengan menveritakan kisah masyhur pada masa Khalifah Umar bin Khattab tentang seorang gadis penjual susu yang menolak mencampur susu dengan air meski tidak ada orang yang melihat.
Saat ibunya berkata bahwa Umar tidak akan mengetahui perbuatannya, sang anak menjawab, “Kalau Umar tidur, apakah Allah juga tidur?”
Menurutnya, kisah tersebut menggambarkan tujuan hakiki pendidikan Islam, yakni melahirkan integritas dan ketakwaan yang tetap hidup meski tidak ada manusia yang mengawasi.
“Yang kita inginkan bukan hanya anak yang pintar, tetapi anak yang sadar bahwa Allah selalu melihat dan mengawasinya,” katanya.
Acara Tasyakuran Hifzhul Qur’an dan Penamatan YPWI Kendari tahun ini diikuti oleh 186 siswa dari SD Islam Terpadu Al Wahdah Kendari, MTs Wahdah Islamiyah Kendari, dan SMA Al-Qur’an Wahdah Islamiyah Kendari. Kegiatan tersebut menjadi momentum syukur atas capaian pendidikan sekaligus pelepasan para siswa untuk melanjutkan perjalanan pendidikan pada jenjang berikutnya.
Laporan: Humas Wahdah Sultra








