wahdahsultra.or.id | Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan nikmat keimanan sebagai nikmat terbesar yang dimiliki oleh seorang hamba ketika iman tersebut ia buktikan dengan melakukan amalan shaleh, sebagaimana perkataan Imam Ahmad Rahimahullahu :

الإيمان قول وعمل يزيد وينقص

“Iman adalah perkataan dan amalan, bisa bertambah dan berkurang.”

Keimanan itu sendiri merupakan syarat utama bagi seorang hamba agar hamba tersebut bisa masuk surga, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 82)

Keimanan merupakan nikmat terbesar dari Allah ta’ala kepada hamba Nya, barangsiapa beriman dengan benar maka Allah ta’ala akan memberikan kepadanya kehidupan yang mudah lagi bahagia, sebagaimana firman Allah ta’ala:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dan dia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl :97)

Keimanan juga memiliki rasa manis dan ketenangan di dalam hati seorang hamba, akan tetapi banyak di antara hamba yang telah lama beriman namun belum mendapatkan manisnya iman, boleh jadi penyebabnya adalah karena belum terpenuhinya syarat-syarat yang Allah tentukan.

Lantas apa saja syarat untuk mendapatkan rasa manis atas iman kita?

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Dari Anas bin Malik dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka

Syarat pertama agar seorang hamba mendapatkan manisnya iman yaitu menjadikan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai dari siapapun, menjadikan perintah Allah dan rasul-Nya di atas segalanya, mengamalkan ibadah-ibadah sesuai dengan petunjuk Allah dan rasul-Nya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“. (QS. Ali Imran: 31).

Syarat Kedua agar seorang hamba mendapatkan manisnya iman yaitu Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Kecintaan kepada seseorang baik kepada keluarga, saudara, Istri, Suami dan teman dilandasi dengan kecintaan karena Allah tatkala bersama dalam ketaatan kepada Allah ta’ala dan tidak mengikutinya tatkala seseorang tersebut bermaksiat kepada Allah ta’ala, sehingga berusaha menasehatinya agar kembali di jalan yang diridhai oleh Allah ta’ala.

Syarat Ketiga agar seorang hamba mendapatkan manisnya iman dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka,  yaitu seseorang yang telah benar taubatnya dengan bertaubat kepada Allah dengan taubatan nasuha sebagaimana firman Allah ta’ala:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Q.S. at-Tahrim:8)

Imam an-Nawawi Rahimahullah dalam kitabnya Riyadhu as-Salihin menjelaskan 3 syarat taubat nasuha jika dosa tersebut tidak berkaitan dengan hak dari seorang hamba yaitu: Pertama, menghentikan dari kemaksiatan yang dilakukan, kedua, menyesal karena telah melakukan kemaksiatan tersebut dan ketiga, bertekad kuat tidak akan kembali mengulangi perbuatan maksiat itu untuk selama-lamanya. Yaitu sangat menyesal dan benci terhadap kekufuran dan dosa seperti dia benci bila dilempar ke neraka.

Orang-orang  yang beriman kemudian beramal shaleh merupakan sebaik-baik makhluk ciptaan Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (Q.S. al-Bayyinah: 7)

Oleh karenanya mari kita perbaiki iman kita dengan memperbanyak dzikir dan istighfar kepada Allah ta’ala kemudian mengganti dosa-dosa yang telah diperbuat dengan beramal shaleh. mudah-mudahan Allah ta’ala memberikan kita Keimanan yang benar dan rasa manis dan ketenangan dalam jiwa dalam menjalankannya.

Oleh: Muhammad Hassanal, S.H. (Ketua Dep. Dakwah dan Pembinaan Masjid Wahdah Islamiyah Sultra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here