ARTIKEL ISLAM – Berdasarkan data dari Kominfo 2021 menunjukkan bahwa penggunaan Narkoba berada di kalangan anak muda berusia 15-35 tahun dengan persentase sebanyak 82,4% berstatus sebagai pemakai, sedangkan 47,1% berperan sebagai pengedar, dan 31,4% sebagai kurir.

Inilah salah satu dari sekian banyak kenyataan pahit yang kita saksikan saat ini, mereka menjadi pecandu narkoba, mabuk-mabukan, tidak salat, dan masih banyak lagi. Terlalu banyak anak muda yang menghabiskan waktunya dalam kesia-siaan, tidak ada kebaikan dunia dan akhirat di dalamnya, bahkan banyak yang terjatuh dalam maksiat dengan beragam macamnya, wal iyadzu billah.

Masa muda memang adalah masa yang penuh dengan warna dan lika-liku kehidupan, masa di mana mereka mencari jati diri, sehingga tak heran jika mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan masyarakat di sekitarnya agar tampak berbeda dan mendapat pengakuan dari orang lain. Oleh karena itu, memberikan nasihat dan pengarahan kepada generasi muda sangat penting, agar mereka lebih terarah dan tidak masuk dan terbelenggu dalam lubang maksiat dan dosa.

Berikut 3 nasihat untuk para pemuda sebagai generasi pelanjut perjuangan para pendahulu ummat Islam:

Nasihat Pertama: Menuntut ilmu dan berdakwah

Malik bin al-Huwairits Radhiyallahu anhu, seorang pemuda di kalangan sahabat Rasulullah menceritakan salah satu pengalamannya bersama sahabat-sahabatnya yang lain ketika datang belajar kepada Rasulullah, dia berkata: “Kami mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami adalah para pemuda yang hampir sebaya. Kami tinggal bersama Rasulullah selama 20 hari. Sungguh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang penyayang. Ketika Beliau Shallallahu’alaihi wa sallam melihat kami rindu kepada keluarga kami, Beliau menanyakan kepada kami tentang keluarga yang kami tinggalkan, lalu kami mengabarkan kepada Beliau Shallallahu’alaihi wa sallam tentang mereka. Kemudian Beliau bersabda:

ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ

“Kembalilah kalian kepada keluarga kalian! dan tinggallah bersama mereka! Ajarilah mereka dan perintahkanlah mereka!” (HR. Al-Bukhari)

Banyak pelajaran dari kisah singkat tersebut, namun di antara pelajaran pentingnya adalah keteguhan para sahabat dalam memanfaatkan hari-harinya datang kepada Rasulullah untuk belajar, bahkan rela berpisah sementara waktu dari keluarganya. Terlebih, mereka sangat memahami kewajiban menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam:

طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَىْ كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Oleh karenanya, para pemuda muslim diharapkan untuk bisa memanfaatkan masa mudanya untuk terus menuntut ilmu, mengamalkannya, kemudian mendakwahkannya kepada orang lain. Umat ini bisa bangkit karena ilmu ketika mereka menjadikan ilmu sebagai pilar utamanya, para pemudanya hadir di majelis-majelis ilmu, sebagaimana ummat ini juga bisa mundur bahkan runtuh ketika mereka meninggalkan ilmu sehingga kejahilan merajalela, mereka tidak tahu cara beribadah kepada Allah dengan benar, praktik jual beli haram di mana-mana, kemaksiatan tersebar di seluruh penjuru negeri.

Bukan hanya menuntut ilmu, namun para pemuda juga diharapkan bisa mencontoh semangat para sahabat dalam berdakwah di usianya yang masih belia, seperti Abu Musa al-Asy’ary, Muadz bin Jabal dan Ali bin Abi Thalib yang diutus oleh Rasulullah dari Madinah untuk berdakwah  ke negeri Yaman. Terlebih, dakwah adalah di antara amalan yang terbaik di sisi Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (Fussilat/41:33)

Nasihat Kedua: Produktif di Masa Muda

Masa muda adalah, masa yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kebaikan dan hal-hal yang produktif, tak boleh dihabiskan dalam kesia-siaan, karena masa muda adalah masa emas, kekuatan di antara dua kelemahan, kelemahan masa anak-anak dan masa tua, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ

Artinya: “Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (Ar-Rum/30:54)

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu mengatakan: “Sungguh saya tidak suka melihat orang yang tidak memiliki kesibukan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat”[1]

Beliau juga mengatakan:

كُنَّا نَغْزُوْ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَابٌ

Artinya: “Kami ikut berperang bersama Rasulullah saat kami masih muda.” (HR. Ahmad)

Saudari Muhammad Bin Siirin yang bernama Hafsah bintu Siirin juga mengatakan:

يا مَعْشَرَ الشَّبابِ اعْمَلُوا، فَإنَّما العَمَلُ فِي الشَّباب

Artinya: “Wahai para pemuda, beramallah, karena sesungguhnya beramal itu di masa muda.”[2]

Juga di akhirat kelak, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memuliakan para pemuda yang senantiasa berusaha untuk taat dan beribadah kepada-Nya di dunia ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan tentang tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, di antaranya adalah seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Memanfaatkan masa muda dalam hal-hal positif dan kebaikan adalah sebuah keharusan, karena masa muda akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak, sebagaimana sabda Rasulullah:

ﷺ لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

Artinya: “Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. Tirmidzi)

Maka, manfaatkanlah masa muda, sebelum datang masa tua yang akan disesali, sebagaimana dalam Syair Abu al-Atahiyyah, dia berkata:

فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً…. فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُ

Aduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali…. Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya[3]

Nasihat ketiga: Jadilah pemuda yang akan dikenang dengan kebaikannya

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan di dalam al-Qur’an kisah dari beberapa pemuda untuk menjadi teladan bagi generasi muda umat ini, di antaranya kisah ashabul kahfi di dalam Surah al-Kahfi

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ

Artinya: “Kami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka.” (Al-Kahf/18:13)

Berangkat dari ayat ini, Imam Ibnu Kastir dalam tafsirnya menegaskan bahwa kebanyakan yang menerima dakwah Rasulullah adalah mereka yang masih muda, adapun orang-orang tua dari kaum Quraisy dan mayoritas mereka tetap dengan agamanya yang batil, dan tidak masuk Islam kecuali hanya sedikit.[4]

Mereka adalah para pemuda yang dipaksa oleh rajanya untuk menyembah selain Allah, namun mereka menentang keras seruan tersebut, sehingga rajanya murka dan merekapun melarikan diri dari negerinya menuju ke sebuah gowa untuk menyelematkan diri dan agamanya.

Seperti itulah pemuda yang diharapkan oleh Islam, tidak mudah terpengaruh oleh orang-orang yang mengajaknya untuk menentang perintah dan larangan Allah, tidak ikut-ikutan kebiasaan dan gaya orang-orang kafir, karena mereka memahami peringatan Rasul yang Mulia:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya: “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menceritakan kisah Nabi Ibrahim ketika menghancurkan berhala-hala yang disembah oleh raja dan masyarakatnya di masa tersebut

قَالُوْا سَمِعْنَا فَتًى يَّذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهٗٓ اِبْرٰهِيْمُ ۗ

Artinya: “Mereka (para penyembah berhala yang lain) berkata, “Kami mendengar seorang pemuda yang mencela mereka (berhala-berhala). Dia dipanggil dengan nama Ibrahim.” (Al-Anbiya’/21:60-67)

Nasihat Keempat: Tidak memperturutkan hawa nafsu

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

Artinya: “Rabbmu (Allah) kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah.” (HR. Ahmad)

Shabwah adalah kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran.

Allah juga mengabadikan kisah perjuangan Nabi Yusuf menghindari godaan istri raja Mesir saat itu, kemudian diselamatkan oleh Allah karena keteguhan dan keimanannya kepada Allah. Allah berfirman:

 وَرَاوَدَتْهُ الَّتِيْ هُوَ فِيْ بَيْتِهَا عَنْ نَّفْسِهٖ وَغَلَّقَتِ الْاَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۗقَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ اِنَّهٗ رَبِّيْٓ اَحْسَنَ مَثْوَايَۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ ٢٣ وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ

Artinya: “Perempuan, yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya, menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku.’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung’.”

Sungguh, perempuan itu benar-benar telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Yusuf pun berkehendak kepadanya sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.369) Demikianlah, Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf/12:23-24)

Nasihat kelima: Menyegerakan menikah jika mampu

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ , فَلْيَصُمْ , فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ

Artinya: “Wahai para pemuda! Barangsiapa sudah mampu untuk menikah, maka hendaklah dia menikah! Karena menikah lebih menjaga pandangan dan lebih membentengi kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah dia berpuasa, sesungguhnya puasa itu adalah tameng bagi pelakunya.” (HR. Al-Bukhâri dan Muslim)

Demikianlah lima nasihat untuk para muda generasi Islam, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kita semua dari hal-hal yang bisa merusak agama dan dunia kita, dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua pemuda-pemuda yang senantiasa tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ______

Ditulis di Asrama Kampus Universitas Islam Madinah, KSA. Rabu, 17 Zulkaidah 1444 H/7 Juni 2023 M.

[1] Abu Nu’aim al-Asbahani, Hillyah al-Auliya wa Thabaqat al-Asfiya. Jilid 1, hal. 130.
[2] Al-Khatib al-Bagdadi, Iqtidho al-Ilm al-Amal. Hal. 109.
[3] Muhammad bin Aidmir. Al-Durru al-Farid wa Baitu al-Qasid. Jilid 8, hal. 198
[4] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim. jilid 3, 1756

Sumber: Markaz Inayah

Media Partners Dakwah

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here