Bombana, wahdahsultra.or.id – Sebagaimana taklim rutin tiap pekan, selalu di malam Rabu atau Selasa malam setelah Maghrib. Begitu pula dengan taklim kali ini, Selasa (21/7/2026) menghadirkan pembicara yang beda daripada biasanya.

Taklim yang mengangkat judul “10 Sebab yang Mendatangkan Kecintaan Allah” dibawakan oleh Ustaz Azwar Sultan, mahasiswa Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia.
Tempat masih sama, yaitu: Masjid An-Nur, Pondok Pesantren Al-Wahdah Bombana Putri, Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Lauru, Kecamatan Rumbia Tengah.
Dari Kitab Madarijus Salikin
Ustaz Azwar yang berkacamata ini membahas tema 10 sebab yang mendatangkan kecintaan Allah dari kitab Madarijus Salikin yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah. Beliau adalah murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
1. Membaca Al-Qur’an dengan Mentadaburi dan Memahami
Selama ini banyak yang hanya membaca Al-Qur’an sekadar membaca, padahal kata Ustaz Azwar, lebih utama itu dengan mentadaburi isi Al-Qur’an yang dibaca. Kalau memang tidak bisa bahasa Arab, bisa dengan membaca terjemahannya.
“Sebagaimana seorang manusia yang dapat surat dari orang yang dicintainya, maka akan dibaca pelan-pelan. Sebagaimana pula seorang suami yang membaca chat istrinya, tentu akan dibaca pelan-pelan agar tidak salah maksud,” ujarnya.
Menurutnya, tujuan Al-Qur’an memang untuk ditadaburi. Belajar Al-Qur’an bukan untuk mencari makan, meskipun boleh diambil upahnya. Pesan darinya,
“Ketika mentadaburi jangan terburu-buru. Seorang aktivis dakwah itu paling tidak baca satu juz setiap hari. Apalagi jika kita ini seorang dai.”
2. Mendekatkan Diri Kepada Allah dengan Amalan-amalan Sunnah Setelah yang Wajib

Kiat yang kedua dan menjadi sebab yang mendatangkan kecintaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dengan melakukan amalan-amalan sunnah. Tentunya, amalan-amalan tersebut dilakukan setelah tuntas yang wajib.
“Ketika hari kiamat nanti, amalan sunnah akan menyempurnakan yang wajib,” kata Ustaz Azwar.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits Qudsi berikut ini:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” [HR. Al-Bukhâri 6502 Fathul Bârî (11/348)].
3. Berdzikir Kepada Allah dalam Segala Hal
Dzikir bisa dilakukan denagn lisan, hati, dan amalan. Bahkan, kata Ustaz Azwar, doa sebelum tidur dan sebelum buang hajat itu termasuk dzikir. Tidak luput pula dzikir adalah istiqfar.
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri beristiqfar sebanyak 100 kali dalam sehari, padahal beliau sudah diampuni semua dosanya, baik yang lalu maupun yang akan datang,” kata Ustaz Azwar.
Beliau mengutip hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya].
Hadits lain yang dikutip oleh Ustaz Azwar:
وَعَنْ أَبِي مُوْسَى الأَشْعَرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ )) . رَوَاهُ البُخَارِيُّ .
وَرَوَاهُ مُسْلِمٌ فَقَالَ : (( مَثَلُ البَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ ، وَالبَيْتِ الَّذِي لاَ يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ ، مَثَلُ الحَيِّ والمَيِّتِ )) .
Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan yang tidak bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6407 dan Muslim, no. 779]
Diriwayatkan oleh Muslim, “Perumpamaan rumah yang disebutkan nama Allah di dalamnya dengan yang tidak, bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.” [HR. Muslim, no. 779]
Sebelum beralih ke poin selanjutnya, Ustaz Azwar mengungkapkan fenomena kaum salaf zaman dahulu, apabila ada anggota keluarganya yang berbuat dosa, maka terlebih dahulu dikembalikan kepada diri mereka. Jangan sampai mereka berbuat dosa yang menimbulkan efek bagi anggota keluarganya sendiri.
4. Mendahulukan yang Dicintai Allah daripada yang Dicintai Hawa Nafsu
Pada dasarnya, hati memang cenderung kepada maksiat atau malas. “Godaan dari setan memang berat, karena setan lebih tua daripada kita,” ungkap Ustaz Azwar.
Ayat Al-Qur’an yang dalam bagian ini sebagai berikut:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Adapun untuk haditsnya sebagai berikut:
عَنْ أَبِيْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ بِنِ عمْرِو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَواهُ تَبَعَاً لِمَا جِئْتُ بِهِ. حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ روَيْنَاهُ فِي كِتَابِ الحُجَّةِ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ
Dari Abū Muḥammad, Abdullāh bin ‘Amr bin al-Āṣ raḍiyallāhu ‘anhumā, dia berkata, ”Rasulullah Shallallāhu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa’.” (Hadis ini ḥasan ṣaḥīḥ, kami telah meriwayatkannya dari kitab al-Ḥujjah dengan sanad yang sahih).
5. Berusaha Merenungkan Asma Allah dengan Sifat-sifat-Nya

Bagi seorang muslim, tentunya mengenal bahwa Allah memiliki banyak nama dengan sifat-sifat-Nya yang mulia. Ustaz Azwar memberikan nasihat kepada hadirin untuk berdoa dengan nama-nama Allah.
“Allah punya 99 nama, siapa yang menghafalnya akan masuk surga. Yang dimaksud menghafal di sini adalah memahaminya. Jangan salah sangka,” tutur beliau.
6. Merenungkan Kebaikan-kebaikan Allah dan Nikmat-nikmat-Nya
Nikmat tidak selalu identik dengan uang. Menurut Ustaz Azwar, “Hidup itu sendiri sudah termasuk nikmat yang besar, apalagi jika bisa hadir di majelis ilmu.”
Beliau mengajak hadirin untuk bersyukur dengan yang sedikit. Selain itu, merenungkan tentang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka sejatinya dia tidak bersyukur kepada Allah.
“Kalau ada orang yang membantu kita jadi pegawai, maka kita berterima kasih kepada orang tersebut. Sedangkan kita sering lupa dengan para ustaz kita yang telah mengajari kita ilmu,” ujarnya.
7. Hati yang Senantiasa Tunduk dan Takut Kepada Allah

Bukti kesalehan itu, dijelaskan oleh Ustaz Azwar adalah bukan di hadapan manusia. Cerita dari beliau,
“Pemuda sekarang makin tertutup, justru makin besar fitnahnya. Ada seorang syekh yang menangis ketika melihat kondisi sekarang yang menimpa anak muda. Butuh orang tua yang menasihati, tidak sekadar memvonis.”
8. Senantiasa Berkhalwat dengan Allah di Sepertiga Malam
Waktu sepertiga malam adalah waktu yang mulia. Menurut Ustaz Azwar, pada waktu tersebut bisa diisi dengan membaca Al-Qur’an, salat malam, dan ditutup dengan istiqfar.
Ayat Al-Qur’an pada poin kedelapan ini, dalam Surah Al-Isra ayat 79:
وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
Artinya: Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.
9. Bermajelis dengan Orang-orang yang Mencintai Allah dan Cinta Mereka Tulus
Majelis ilmu merupakan kumpulan orang yang mulia. Namun, dalam bermajelis, perlu dihindari yang namanya konflik.
“Jangan karena ada masalah dengan sesama ikhwah, lalu meninggalkan majelis. Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saja bisa berselisih. Perumpamaan teman yang baik seperti dekat dengan penjual parfum,” kata Ustaz Azwar.
10. Menjauhkan Segala yang Menghalangi dengan Allah
Ustaz Azwar menjelaskan dalam poin terakhir ini, yang dimaksud penghalang dengan Allah adalah maksiat.
“Termasuk yang bisa menghalangi adalah keluarga kita sendiri. Kalau ada masalah yang berkaitan dengan anak, kita bisa tidak adil,” tambah beliau.
Ayat Al-Qur’an di poin kesepuluh ini:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ
Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

Mari Dukung Muktamar V Wahdah Islamiyah dengan berpartisipasi melalui link berikut: https://s.wahdah.or.id/WakafMedia
Sumber:
1. https://almanhaj.or.id/9927-bertaqarrub-kepada-allah-dengan-amalan-sunnah-setelah-yang-wajib.html
2. https://muslim.or.id/3009-amalan-lebih-baik-kontinu-walaupun-sedikit.html
3. https://rumaysho.com/17005-bandingan-orang-yang-berdzikir-dengan-yang-tidak-berdzikir.html
4. https://tafsirweb.com/1163-surat-ali-imran-ayat-31.html
5. https://markazsunnah.com/hadis-ke-41-al-arbain-hawa-nafsu-harus-tunduk-pada-syariat
6. https://tafsirweb.com/4683-surat-al-isra-ayat-79.html
7. https://tafsirweb.com/10931-surat-al-munafiqun-ayat-9.html









